Tips Dan Cara Mengobati Flu Burung Secara Tradisional

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tips Dan Cara Mengobati Flu Burung Secara Tradisional

Post  game2808 on Fri 23 Jun 2017, 19:00




Flu Burung atau Avian Influenza (AI) merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh virus H5N1. Penyakit ini biasanya dapat menyebabkan kematian pada unggas  secara mendadak dan menyebar dengan cepat. Ayam, itik, kalkun, burung-burung liar dan sejenisnya serta beberapa binatang lainnya dan juga termasuk manusia dapat terkena infeksi penyakit ini dan menyebabkan kematian. Karakteristik virus flu burung itu suka berada dalam kotoran unggas dan lingkungan (air dan tanah) dalam waktu beberapa minggu dan lebih lama lagi pada suhu yang dingin, namun setelah dipanaskan langsung mati.

Berikut di bawah ini adalah gejala-gejala flu burung:

  1. Jengger dan pial membengkak dengan warna kebiruan.
  2. Pendarahan yang merata pada kaki yang berupa bintik-bintik merah (ptekhi) atau yang biasa disebut juga dengan ”kaki kerokan”.
  3. Adanya cairan pada mata dan hidung (gangguan pernapasan).
  4. Keluar cairan eksudat jernih hingga kental dari rongga mulut.
  5. Diare.
  6. Haus berlebihan.
  7. Kerabang telur lembek.
  8. Tingkat kematian sangat tinggi mendekati 100% (kematian dalam waktu 2 hari, maksimal 1 minggu).

Akan tetapi jangan cemas, kami telah merangkum beberapa tips dan cara untuk mengobati flu burung pada adu ayam secara tradisional yang telah terbukti efektif, berikut di bawah ini adalah beberapa tipsnya:

  1. Sirih Merah, Sambiloto Dan Adas

    Pada siaran pers IPB pada 6 April 2013 terdapat 3 jenis tanaman yang memiliki potensi besar sebagai penghambat infeksi virus flu burung H5N1 ke sel Vero, yaitu Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas. Penelitian tanaman obat herbal yang dilakukan dimaksudkan sebagai upaya mencegah penanggulangan flu burung pada ayam khususnya.

    Penelitian tersebut sudah berjalan sejak tahun 2007. Sebelumnya ada 30-an tanaman obat herbal yang ada di seluruh Indonesia yang telah diteliti oleh IPB yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) Bogor. Ketika itu segala macam tanaman obat herbal yang dimiliki Balitro digunakan. Singkatnya tanaman obat herbal yang berkhasiat disaring dari tahun 2007 secara in vitro.  Pada tahun 2008-2010 dilakukan uji secara in vivo. Akhirnya pada tahun 2010 dipecah menjadi 3 tanaman obat herbal yang berkhasiat yaitu sirih merah, sambiloto dan adas, yang menghasikan hasil signifikan terhadap flu burung.

  2. Fa Talai Jone (Sambiloto) Dan Krua Khao Hor

    Wabah flu burung telah menginspirasi seorang peternak ayam di Nakhon Phanom, Utara propinsi Muang–Thailand, untuk mencoba menerapkan resep obat tradisional.  Resep obat tradisional tersebut tidak lain adalah digunakan untuk mengobati ayam-ayam yang sakit pada saluran pernafasan akibat perubahan cuaca. Resep tersebut sebetulnya telah digunakan dimasa lalu untuk menyembuhkan ayam-ayam aduan yang terluka setelah diadu.

    Peternak ayam itu mengkombinasikan 2 jenis tanaman obat lokal yaitu fa talai jone (sambiloto) dan krua khao hor.  Cairan dari rebusan kedua tanaman obat tersebut kemudian dicampurkan dengan pakan ternak untuk diberikan kepada ayam-ayam yang sakit. Hasilnya dalam 3 hari ayam-ayam yang sakit membaik bahkan ada yang pulih dari sakitnya. Kini ide tanaman obat tersebut dimanfaatkan pula oleh beberapa peternak ayam di wilayah tersebut. Taman obat yang pertama yaitu sambiloto sudah ada di Indonesia, tetapi tanaman obat yang kedua tidak ada penjelasannya.

  3. Temulawak

    Obat herbal yang satu ini merupakan hasil penelitian dari para peneliti Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB), yang menunjukkan bahwa tanaman obat herbal temulawak (Curcuma xanthorrhiza) yang dicampur dengan sejumlah bahan obat herbal lainnya mampu mengobati dan melakukan pencegahan terhadap virus flu burung. Obat herbal ini baru diterapkan pada unggas, namun para peneliti yakin pengobatan herbal ini juga bisa diterapkan pada manusia melalui penelitian yang lebih lanjut.

    Pengujian ramuan obat herbal temulawak tersebut telah dilakukan, dengan cara memasukkan/menyuntikkan virus flu burung pada unggas yang telah diberikan ramuan herbal.  Hasilnya, unggas yang telah diberi obat herbal temulawak mempunyai umur yang lebih panjang ketika disuntik virus flu burung dibandingkan dengan unggas yang tidak diberi obat herbal temulawak. Menurut penelitian tersebut, ramuan obat herbal temulawak tersebut dicampur dengan temu ireng, meniran, dan sambiloto. Penggunaan temulawak ini didasarkan pada penelitiannya sebelumnya bahwa temulawak mampu menangkal perkembangan sel tumor atau kanker, yang biasanya bahan antitumor bisa menjadi antivirus karena cara kerjanya sama.

    Sekian informasi yang dapat kami sampaikan mengenai tips dan cara mengobati flu burung secara tradisionaal, semoga dengan informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua ataupun Anda yang sedang mencari informasi tentang sabung ayam dan sejenisnya.


game2808

Jumlah posting : 2
Join date : 22.06.17

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik